Secangkir kopi dan Hotspot Rindu
Wanita tak bernama.
Sebuah warkop,pada dini hari yang gerimis.
Kekasih,Aku telah menyimpan muara cintaku pada sebuah tempat yang jauh dari jangkauan mata selain matamu.pada sebuah tempat yang tak terjamah oleh sesiapa,kecuali olehmu. bahkan waktu,cuaca,atau maut sekalipun takkan sanggup menggunting temali kasih yang telah kuikat dengan begitu erat pada sekerat hatimu.aku menyebutnya rasa yang agung,debar jantung yang mengirama indah manakala ekor mataku berlari mengejar kemana titik pandangmu tertuju.
Malam menjadi sepi.sebuah warkop pinggir jalan masih buka.aku dan engkau dalam jarak yang teramat dekat,duduk menunggu takdir.memandangi detak detik waktu yang tak pernah bosan memutar roda hidup.seolah sedang meramal kemana arah nasib baik yangtelah mempertemukan kita pada malam itu.
Beberapa orang yang juga hadir ditempat itu serius menatap segala apa yang tersaji dihadapannya,diatas meja yang dipenuhi bermacam benda : laptop,gelas berisi cairan kopi,asbak dengan puntung rokok yang menggunung,serta botol2 minuman dingin dan sedotannya yang menjulur kaku.mereka sibuk,tenggelam dalam dunianya masing-masing.dan mereka sungguh tak menyadari apa yang sedang kualami saat ini.apa yang tengah terjadi denganku serta gejolak perasaan yang deras menggemuruh dalam aliran darahku.gelisah,cemas,takut bercampur kantuk yang menggerayangiku.
Hei kau manisku,apa yang sedang kau rasa dibalik meja sana?takkah kau rasakan denyut nadiku memompa darah begitu cepat menuju jantungku.membawa bayangan senyummu yang kau lemparkan kepadaku.mengirimnya keotakku,memaksaku menyimpannya dimemoriku dan sekejap mengubahku menjadi lelaki yang terlalu mudah takluk pada sebuah rasa.ah,sulit kupercaya.aku lelaki yang biasanya tak mudah percaya pada cinta mengapa tiba2 berubah melankolis karena tingkah manismu.tapi,seandainyapun kau tahu rasaku.pedulikah kau padaku?ah,pasti kau cuek saja.atau kau akan marah padaku?samakah perasaanmu dengan apa yang tengah kurasakan saat ini?atau tak sama sekali?aku hanya bisa menduga duga.
Hei manisku,mengapa diam saja.jawablah!ah,tiba2 aku tersadar dari khayalku..bukankah kau belum tahu.bukankah aku belum bilang padamu.betapa bodohnya aku.sekali lagi kau telah berhasil membuatku berandai-andai.kualihkan pandangan kelaptop dihadapanku.mencoba menepis segala angan tentangmu.percuma merangkai khayal indah,sebab nyatanya kau sudah ada yang punya.seorang lelaki.sekalipun tak lebih gagah dariku,nyatanya ia lebih beruntung sebab telah berhasil mendapatkan cintamu.ingin rasanya kukumpulkan seluruh mahluk yang hidup diatas planet ini untuk menyumpahi lelaki itu,kekasihmu yang tak tahu malu itu.datang setiap malam ditempat itu,menemanimu hingga pagi.dan setiap kali warkop itu menjadi sepi ketika pengunjung beranjak pergi satu demi satu dari tempat itu,terjadilah hal itu,hal yang paling kutakutkan.hal yang sesungguhnya sangat tak ingin kulihat : lelaki itu yang katanya kekasihmu akan mendekatimu,mencumbui bibirmu dengan begitu nikmat lalu melingkarkan lengan “terkutuknya”dipinggulmu yang aduhai.ah,persetan dengan kekasihmu!apakah ia sengaja berlaku demikian dihadapanku?karena aku ada ditempat itu duduk tepat dihadapanmu?kalau iya,maka betapa bangsatnya kekasihmu itu,mengumbar kemesraan didepan mataku,lelaki yang sudah jelas jelas juga jatuh cinta padamu.jangan salahkan aku,manis!bila kekasihmu itu meregang nyawa karena tikaman badik dari lelaki yang sedang dilalap cemburu!asal kau tahu,demi siri’aku tak peduli dinginnya lantai penjara.
Hei manisku,wanita tak bernama.dengan apa harus kuucapkan perasaan ini?sebab bibir terlalu kelu untuk mengeja rasa yang sedang melandaku.marahkah kau padaku karena telah menyumpahi kekasihmu barusan?atau sesungguhnya kaupun dari dulu suka padaku tapi diam diam menyembunyikan perasaanmu karena malu?duh,betapa bodohnya kamu.mengapa harus malu?bukankah aku memang lelaki yang paling tepat untukmu.lelaki sesuai tipemu?lelaki sejati,penyayang,meskipun tak terlalu rupawan tapi tetap menarik.dan satu hal lagi yang perlu kau tahu,manisku.aku lelaki yang akan selalu melukiskan indahmu dalam lembar-lembar puisiku.aku seorang penyair.sekalipun orang memandang sebelah mata dengan pekerjaan yang( kata mereka) tak menghasilkan duit ini.tak menjamin hari tualah,tak akan bahagialah,atau apa saja yang buruk – buruk akan selalu ditimpakan kepada seorang wanita yang memilih berumah tangga dengan seorang penyair, sepertiku.
Jika saja laut adalah airmata,itulah airmataku
Jika saja sungai adalah kesedihan,itulah lukaku yang paling dalam
Tetapi tidak ketika aku tertatih mengeja cinta yang kau miliki
Segala airmata dan luka hanyalah instrument nasib
sebagai lelaki yang ditakdirkan jatuh cinta kepadamu
Maka,apapun yang membuatmu ragu
Hilangkan lalu ganti dengan percaya
Percaya pada takdir bahwa
Aku pantas untukmu.
Secangkir kopi dan hotspot Rindu.Menjelang pagi.gerimis telah pergi.
Wanita tak bernama,kuberanikan saja diriku mulai saat ini memanggilmu dengan panggilan kekasih.kekasih yang rahasia.mengapa?sebab hanya kita,kau dan aku yang tahu rasa ini.cukuplah rindu kita yang akan saling berbicara dari kedalaman hati kita masing –masing.diluar gerimis telah pergi,hari telah pagi.aku akan pulang untuk kembali lagi kesini,ketempat ini.tempat yang akan selalu kita kenang sebagai tempat pertama kali kita bertemu dan dengan mudahnya benih – benih cinta tumbuh dari mata – mata kita yang lekat bertatapan.enggan tuk saling melepaskan.secangkir kopi dan hotspot,juga segala benda yang hadir diruangan ini diam- diam telah menjadi saksi yang selamanya akan membisu didalam keabadian.meja- meja,kursi plastik,televisi,asap rokok yang merayap pelan didingin malam takkan pernah kulupa.aroma parfummu yang singgah lalu terkulai indah dipusat syarafku adalah nafas-nafas surga yang akan selalu membuatku rindu pada warkop ini.dalam hatiku,selembar puisi telah kugubah dan perlahan kuselipkan dibilik hatimu,tepat disebelah tulisan namaku yang diam-diam telah kau tulis indah dihatimu.terima kasih,manisku.terima kasih karena begitu mudahnya cinta kau labuhkan untukku..
Sungguminasa,2 juli 2010
Komentar
Posting Komentar