Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.



Ketika saya hendak mulai menulis corat-coret ini,betapa banyak wajah melintas dan melesat-lesat di ingatan saya.wajah-wajah  itu yang sejenak coba saya hadirkan kembali ke dalam kenang di kepala saya yang teramat sempit pula terbatas.isi batok kepala dan pikiran saya sungguh hanya sepetak ruang yang secara manusiawi memang tak pernah cukup dihuni beribu ingatan akan peristiwa dan buah dari persinggungan dengan orang-orang yang selama ini berjasa dalam perjalanan hidup saya.mereka yang telah begitu banyak memberi cinta,kebaikan dan pengalaman teramat berharga dari hidup yang telah tertempuh hingga sejauh ini.adapun maksud saya menulis surat ini tidak lain sebagai bentuk mengawetkan sebanyak mungkin hal yang masih tersimpan di kepala.atau barangkali kalau boleh disebut sebagai cara paling sederhana saya berterima kasih kepada mereka,orang-orang yang telah berjasa,orang-orang yang telah memberi saya sesuatu.sesuatu yang saya anggap sangat berharga.sesuatu yang pantas untuk dikenang,disimpan di dalam memori untuk kelak diceritakan kembali pada anak cucu di masa datang sebagai  pelajaran bagi mereka yang kita sebut mata rantai  kehidupan dan generasi pelanjut hari esok.maka,saya pun membuat catatan ini,semacam daftar berisi orang-orang yang berjasa atau berpengaruh di dalam kehidupan saya,semenjak saya kecil hingga hari ini.mungkin tidak semua orang yang bisa saya sebutkan disini,mengingat halaman ini yang teramat sempit,juga pasti terlalu banyak jika harus disebutkan semua satu demi satu.untuk itu saya hanya bisa menuliskan beberapa,tentu bukan karena saya bermaksud pilih kasih,atau hendak mengecilkan jasa-jasa seseorang,dan sebagainya dan sebagainya.
Jika saya disuruh menyebut satu sosok sebagai tempat saya harus meletakkan kata terima kasih paling pertama,tentu sosok itu adalah orang tua saya.dengan mantap saya akan berkata lantang orang itu adalah bapak dan ibu saya.sepasang suami-isteri yang telah digariskan Tuhan untuk berjodoh mengasuh dan membasuh kehidupan saya dengan cinta  dan kasih hingga sebesar ini.kedua orang itulah yang manakala saya terkenang akan jasa-jasanya,tak ada yang mampu lagi menahan laju air mata saya.tak ada yang bisa menghalang-halangi saya untuk tidak menangis haru atas jerih payah mereka demi menyambung nafas saya berpuluh tahun dengan harapan sederhana: saya juga bisa seperti orang-orang kebanyakan,yang mengenyam pendidikan dan kehidupan layak.merekalah yang membuat saya bisa hidup sampai sekarang.
Pun kalau saya diminta bercerita tentang kedua sosok itu,maka sebenarnya kedua orang tua saya hanyalah orang biasa saja.Bapak saya bukanlah orang berpangkat.ia Cuma petani.sama seperti kakek saya,juga sama seperti pekerjaan tetangga kanan kiri rumah.
Tetapi yang membuat saya kagum pada bapak bukan semata karena kekuatan tangannya dengan mudah membalik tanah dengan cangkul dan bajak saban pagi dan sore hingga membuat otot-ototnya menyembul keras.juga bukan karena kehidupannya yang  terlampau teratur setiap hari sejak berpuluh tahun lampau; pagi ke sawah,pulang menjelang siang,mengisi perut kemudian menyiapkan diri untuk beribadah dan kembali lagi ke sawah pada sore hari.lebih dari itu,kemauannya untuk membahagiakan kami anak-anaknya tiada bandingannya.sayang sekali usia bapak hanya sampai di angka 40,ketika Tuhan memanggilnya pulang karena penyakit liver,saya baru 5 tahun.sedang kakak saya yang tertua baru masuk di sekolah menengah pertama.
Ibu saya pun demikian,juga orang biasa,berasal dari keluarga sangat sederhana.ia guru di sebuah sekolah dasar di kampung kami.ketika ibu diangkat menjadi guru pada tahun 1976,ia baru setahun menikah dengan bapak.artinya,bapak yang Cuma petani bisa bernafas lega karena terbantu ibu.sebab gaji ibu sebagai guru bisa sedikit menolong memenuhi kebutuhan keluarga.meskipun waktu itu gaji ibu sebagai guru berpangkat golongan rendah juga tidak bisa dibilang besar,tetapi sudah bisa disebut mencukupi.
Jika saya mendengar cerita-cerita dari orang-orang tua di kampung kami soal kehidupan bapak dan ibu di masa lalu,pada saat saya masih anak-anak dan belum bisa merekam banyak ingatan,betapa saya bersyukur pada Tuhan karena dikaruniai orang tua seperti mereka berdua.sebab jasa merekalah hingga saya bisa bersekolah hingga ke tingkat perguruan tinggi.meskipun saya baru masuk bangku sekolah dasar,pada tahun 1990,setahun setelah bapak berpulang,namun jasa-jasa bapak masih terus mengalir dan kurasakan sampai hari ini.tidak jarang ketika ada keperluan mendesak baik itu biaya sekolah saya maupun ongkos pernikahan kakak saya,lantas ibu tak memegang uang banyak,maka yang jadi andalan selalu sawah peninggalan bapak.sewaktu masih hidup,bapak saya memang pernah membeli satu dua petak sawah.menurut ibu,jika ada orang yang bertanya mengapa bapak lebih suka membeli sawah daripada kerbau atau sepeda motor,maka bapak pasti selalu menyebut kami anak-anaknya sebagai alasan.
“Kenang-kenangan buat anak-anakku nanti,lagipula nilai sawah lebih awet di banding hewan ternak atau kendaraan,sawah seukuran berapapun tetap bisa dibagi-bagi sebagai warisan.kerbau atau motor tidak bisa”.begitu kata bapak selalu beralasan.
sampai hari ini,sawah itulah yang selalu di gadaikan ibu jika sedang ditimpa kebutuhan mendesak yang berhubungan dengan uang.dua kakak lelaki saya,menikah berkat ongkos dari menggadai sawah itu.sewaktu saya mendaftar kuliah,sawah peninggalan bapak sekali lagi menjadi penyelamat.ah,terima kasih bapak,demi membeli sawah itu,bapak saya bahkan menyimpan jauh-jauh keinginannya untuk memiliki Honda bebek tahun 70-an.
Telah begitu panjang perjalanan ibu berjuang menghidupi keluarga.25 tahun sudah sejak bapak meninggal,dalam rentang waktu selama itu ibu masih gigih mengurusi kami anak-anaknya.meski ia terkadang letih dan selalu sendiri.penghargaan paling tinggi sudah selayaknya kami persembahkan pada ibu.hingga hari ini,setelah memperoleh sejumlah cucu-cucu lucu dari kedua kakak saya,keinginan terbesar ibu kini adalah  melihat saya menikah.
“ibu baru bisa bernafas lega kalau kamu sudah menikah,Arif.ibu sudah tua,sebelum ibu pamit alangkah bahagia jika ibu masih sempat menikahkanmu seperti kedua kakakmu.
“erottonga’ ancinikko aggimbara’,nak”
kalimat andalan ibu terlontar lagi setiap kali saya beralasan belum siap menikah.
tetapi setahun terakhir ini,setelah saya merasa mantap dan telah berbulat tekad untuk menikah dengan seorang perempuan baik-baik yang telah cukup lama saya kenal,ibu saya pun mulai sakit-sakitan.beberapa bulan lalu ibu jatuh sakit,seminggu lamanya ibu tak bisa kemana-mana.hanya bisa makan di kamar dan bangun dari tempat tidur hanya apabila ingin sholat dan sesekali ke kamar kecil.sebulan lalu,penyakit lama ibu kambuh lagi.kali ini lebih parah.sore itu saya dan ibu sedang makan ketika ibu tersedak nasi,ia terbatuk-batuk lama sekali.ketika ia ke kamar mandi kulihat ibu masih terbatuk-batuk sampai memuntahkan nasinya.tidak lama berselang dari mulut ibu juga keluar gumpalan-gumpalan darah segar,lantai kamar mandi seketika memerah karena darah yang di muntahkan ibu.saya gemetar seketika,apalagi setelah melihat kondisi ibu yang terkulai lemas di kamar mandi.buru-buru saya memanggil tetangga untuk membantu lalu lekas melarikan ibu ke rumah sakit.3 hari kemudian ibu sudah di bolehkan pulang.selama di rumah sakit,kakak saya yang dibantu isterinya,yang bergantian menjagai ibu.saya menjaga rumah,juga sesekali saya datang menggantikan kakak saya yang harus bekerja.sewaktu ibu kembali lagi ke rumah,saya senang dan bersyukur sekali.Tuhan menjawab doa-doa saya,sewaktu ibu di rumah sakit saya tak henti henti berdoa kiranya ibu saya di sehatkan kembali.

Setelah kedua orang tua,maka urutan orang yang berjasa besar bagi hidup saya adalah
Kakak saya yang pertama.ketika saya sedang butuh orang yang bisa membantu mengerjakan PR,kakak saya selalu hadir.ketika saya minta di bikinkan layang-layang,kakak saya tidak mengeluh meski ia baru pulang sekolah.kalau saya butuh pengantar ke Sekolah,ia dan sepedanya tidak pernah capek.kakak saya tidak pernah mempunyai stok alasan untuk menolak setiap kali saya minta pertolongan.ia baik sekali.kata ibu saya,jika kita berusaha menjadi orang baik,maka jalan hidup kita pun akan dimudahkan Tuhan.jika saya teringat perkataan ibu saya tersebut,maka saya pun kemudian mengerti,barang kali itu pula yang menyebabkan kakak pertama saya bernasib baik,ia dimudahkan Tuhan dalam hal jodoh.tak terlalu lama setelah kakak saya tamat dari STM,ia menemukan jodohnya.kakak saya yang pertama menikah tahun 2000.saya masih kelas 2 SMP.waktu itu,ongkos menikah belum semahal sekarang.mulai dari uang Panaik hingga sewa perlengkapan pesta,Alhamdulillah semua masih bisa dibayar ibu.berkat uang dari menggadai sawah ditambah uang arisan ibu dengan tetangga yang juga “Naik” pada saat dibutuhkan.Tuhan memang Maha baik,kebutuhan menikah kakak pertama saya Alhamdulillah tercukupi.
Dalam rentang waktu 12 tahun Sewaktu bersekolah dari  SD hingga SMK,saya juga akan selalu mengenang jasa-jasa dari banyak sosok guru di sekolah saya.kepada mereka saya pun selalu ingin bertemu dan mengucap terima kasih berkali-kali.tentu juga dengan disertai mencium punggung tangan mereka.saya masih teringat beberapa nama:
Pak Adnan,guru ORKES(Olahraga dan Kesehatan) saya.(mata pelajaran ORKES kini telah berubah nama menjadi PENJASKES).ia baik,dalam kacamata saya.karena tidak pernah memukul saya,padahal tidak demikian dengan teman-teman saya yang lain.mereka sering kena hukum karena sering bolos setiap kali disuruh mengerjakan tugas olahraga.tak jarang pada teman-teman saya yang nakal itu,Pak Adnan sering mendaratkan pukulan Mistar kayunya di betis mereka.
satu hal yang juga saya ingat yaitu sifat guru-guru dahulu sungguh jauh berbeda dengan guru-guru zaman sekarang.dahulu,jika ada murid yang melakukan pelanggaran atau berbuat suatu perkara yang dianggap oleh guru-guru sebagai sebuah kesalahan,maka para guru tidak segan-segan memukul murid.berbagai macam alat bisa menjelma “senjata” apabila sudah berada di tangan guru-guru kami.mulai dari Penggaris kayu berukuran raksasa,ranting pohon dari pekarangan,kaki meja yang bisa menjepit ujung kaki kami yang tak bersepatu,sampai penghapus papan tulis  yang bisa terbang menjelajah hingga ke sudut-sudut ruang kelas bila sewaktu-waktu diperlukan.murid yang tersambar penghapus terbang ini sekonyong-konyong wajahnya akan berubah putih seperti vampir karena penghapus yang belepotan bubuk kapur tulis(waktu saya SD,di sekolah saya belum ada papan tulis yang memakai spidol seperti sekarang,tetapi masih memakai kapur tulis.yang selalu saya ingat juga adalah merek kapur tulis itu: SARJANA.merek kapur tulis itu tidak pernah berubah selama 6 tahun saya bersekolah di SD.pemilik perusahaan kapur tulis itu pasti sangat kaya raya)
guru zaman dulu dengan tabiat semacam itu(ringan tangan terhadap murid yang dianggap melakukan kesalahan) sungguh telah berbeda jauh dengan kebanyakan guru-guru yang ada hari ini yang justru terbilang lebih santun dalam mendidik karena tidak lagi memakai kekerasan dalam mengajar murid-murid seperti yang guru zaman dulu sering lakukan,hal ini barang kali juga dipengaruhi kurikulum yang juga sudah berubah jauh dibanding dulu.tetapi anehnya,sekalipun guru pada waktu itu termasuk ringan tangan,tak satupun yang pernah diproses di kantor polisi karena perbuatannya.padahal di kekinian,di zaman ketika pengetahuan telah bekembang begitu pesat sehingga masa kejayaan kapur tulis telah digeser oleh snowman,di masa ketika guru-guru tidak lagi tertarik pada penghapus kain yang belepotan kapur karena tinggal meng”klik” tombol Backspace saja,maka segalanya pun kembali bersih,mengapa guru-guru seperti antre di periksa polisi karena dituding melakukan pemukulan terhadap murid-murid.padahal,murid-murid sekarang,tak lagi berhadapan dengan Penghapus terbang seperti murid tempo dulu,murid-murid masa kini dimanjakan oleh kemajuan teknologi,mereka belajar ditemani Komputer.
Jika saya membaca di Koran,atau tak sengaja melihat di televisi berita tentang kekerasan yang dilakukan seorang oknum guru terhadap anak didiknya,yang kemudian melintas di ingatan saya adalah wajah-wajah guru saya ketika saya masih duduk di di bangku SD dan SMP.guru-guru yang ringan tangan dan suka memukul itu dahulu,tak terkecuali Pak Adnan guru ORKES saya,tak tahu mengapa ingin selalu kami kenang pengabdiannya meski sekeras bagaimanapun mereka mengajar kami.bagaimana kabar mereka sekarang,entah tak pernah terdengar lagi.
Ketika suatu kali saya bertemu dengan teman sekolah saya ketika SD,saya iseng bertanya tentang masa-masa sekolah kami dan pengalaman paling berkesan.saya tercenung ketika teman saya tersebut berkata ia merindukan guru-guru kami.padahal teman saya ini,adalah yang termasuk paling sering berlangganan dengan mistar kayu dan penghapus terbang yang di lemparkan guru kami.tetapi menurut pengakuan teman saya ini,ia tak pernah sedikit pun membenci apalagi menaruh dendam pada guru yang acapkali melakukan “penyiksaan” kepadanya.sebab,pada waktu itu memukul dengan maksud mendidik dan memberi efek jera masih dianggap sebagai suatu kewajaran yang tidak perlu dibesar-besarkan dengan dilaporkan ke kantor Polisi.pun pada waktu itu,meski guru-guru kami sangar dan ringan tangan,tetapi belum pernah ada murid yang dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah akibat disiksa oleh guru.sungguh berbeda apabila bandingkan dengan kenyataan hari ini.
Mengapa ini bisa terjadi? Ketika saya tanyakan pada ibu,ibu saya yang guru SD berkata orang-orang dulu lebih tulus dalam menghargai gurunya dibanding orang hari ini.tetapi menurut teman saya,hal ini bisa juga disebabkan karena orientasi guru yang hari ini juga sudah berubah haluan.predikat guru hari ini tidak lagi berguna sebagai orang yang mengajarkan ilmu dengan tulus dan tanpa tanda jasa,tetapi telah berubah sebagai pekerja yang harus digaji setinggi mungkin meski kualitasnya hanya dibuktikan oleh sertifikat yang juga belum tentu “berkata jujur”.guru hari ini tidak diletakkan di posisi pengajar yang siap membagi ilmu dengan ikhlas dan suka rela,tetapi telah dianggap sebagai profesi yang harus memberi keuntungan sebesar mungkin sekalipun tenaga yang dikeluarkan tergolong minim.saya tidak sepenuhnya setuju dengan penilaian teman saya.sebab saya yakin,masih ada juga guru yang ikhlas dalam mengabdi.membagi ilmu tanpa pamrih tanpa peduli mereka di tempatkan di daerah paling terpencil pun.guru seperti ini,sekarang jumlahnya memang berbilang jari.

Waktu masih duduk di sekolah dasar,saya ikut mengaji bersama kakak saya.sebagaimana kebiasaan turun temurun anak-anak di kampung kami yang selalu diajarkan membaca Al-quran sejak kanak-kanak.para orang tua di kampung saya akan marah besar jika ada anak-anak mereka yang ketahuan tidak datang mengaji dalam sehari.guru mengaji saya,wanita tua berusia kepala tujuh.namanya Daeng Caya.saya tidak ingin lupa berterima kasih padanya.meskipun ia tidak dibayar,ia tetap rela mengajar kami membaca huruf hijaiyyah satu demi satu hingga kami lancar mengaji al quran sampai khatam.setiap pulang sekolah beranda rumah panggungnya yang ia tinggali sebatang kara selalu sesak oleh anak-anak yang mengaji.tempat itu tak pernah sepi oleh hiruk-pikuk suara anak-anak yang mengaji.sebagai anak didik yang merasa tahu membalas budi,dua buah gentong air di depan rumahnya selalu penuh terisi oleh air yang kami timba dari sumur.satu demi satu anak menimba air lalu menampungnya ke dalam gentong milik guru mengaji kami itu.air dari gentong itulah yang dipakai guru kami berwudhu dan keperluan memasak.Daeng Caya,guru mengaji kami itu,kini telah tiada.ia hidup hingga usia hampir 90 tahun dan menghabiskan 60 tahun terakhir hidupnya sebagai guru Pangaji(guru mengaji).setiap kali saya melewati sepetak kebun di ujung kampung,saya selalu teringat pada guru mengaji saya itu.di tengah-tengah kebun itu dua puluh tahun silam berdiri sebuah rumah panggung yang berandanya berbahan kayu dan papan lapuk.di salah satu sudut beranda yang agak miring itulah dulu setiap siang sepulang sekolah saya duduk dengan khusyuk menunggu giliran diajar mengaji oleh Daeng Caya,guru mengaji saya.bahkan masih jernih di ingatan saya,warna sarung yang sering saya pakai mengaji kala itu,suara guru mengaji saya yang gemetar dan terbatuk-batuk dimamah usia,bunyi air yang di timba anak-anak dari sumur lalu di tuang ke dalam gentong yang berlumut,sampai bau kertas al-quran tua yang selalu kami cium setiap kali menamatkan satu bacaan.
saya kemudian harus selalu mengingatkan diri saya pribadi agar senantiasa mengenang dan mematri dalam hati jasa-jasa guru saya,baik ibu dan bapak guru yang pernah mengajar saya di bangku sekolah hingga meja kuliah maupun guru yang pernah mengajar saya ketika menimba ilmu agama.untuk itu,nama-nama mereka juga harus disebut jika saya ditanya kemana saya harus berterima kasih.


Saya mulai bingung,selanjutnya siapa yang hendak saya bahas sebagai “objek” ucapan terima kasih saya,tetapi saya bermaksud menyudahi catatan ini sampai disini saja.sebab secara garis besar,mereka yang telah berjasa sedikit banyaknya telah saya ceritakan lewat tulisan teramat singkat ini.saya tak menganggap bahwa dengan menuliskan nama-nama orang yang berjasa terhadap hidup saya,lantas jasa dan budi baik mereka pada saya impas dan terlunasi.pun jika ada kesan,saya menyibak sifat buruk seseorang,itu sungguh jauh dari niatan saya.sungguh tiada maksud saya seperti itu.tetapi anggap ini hanya semacam cerita nostalgia saja,secuplik kisah yang boleh dibaca di waktu senggang ketika sedang duduk menunggu pete’-pete’ kampus atau sebagai bacaan ringan pengisi waktu luang saat sore sedang hujan dan kita tak bisa melangkah pulang.ini hanya tulisan seseorang yang coba berterima kasih,tidak lebih.


(Moncobalang,1990-2014).



*tugas menulis kelas pembelajaran primer bersama Penyair Muhary Wahyu Nurba

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nyali!

Ibu