Kisah Gondrong dan Perjumpaan dengan SENO GUMIRA AJIDARMA

Saya dan Seno Gumira Ajidarma.sumber foto: pribadi


 Pada awal dekade 70 an ketika demam hippies tengah melanda seantero jagat dan The Beatles hampir saja menjadi Berhala,presiden Soeharto dan rezim orde barunya pernah mengeluarkan instruksi(larangan) agar pemuda tidak berambut gondrong.rambut gondrong dinilai terlalu kebarat-baratan sehingga berpotensi merusak akhlak anak muda yang notabene dianggap sebagai generasi pelanjut Bangsa.pemuda berambut gondrong pada waktu itu dinilai bersikap acuh tak acuh dan cenderung melakukan tindak kriminal.pada 1971,TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi waktu itu mencekal para seniman yang berambut gondrong.mereka dilarang tampil di stasiun teve milik pemerintah itu.belakangan,muncul poster bertulisan "Tidak Melayani Rambut Gondrong" dimana-mana.poster itu ditempel dan disebarkan di gedung pemerintah,kampus,sekolah,pasar,gedung bioskop dan jalan-jalan.lama kelamaan gerakan anti rambut gondrong meluber,banyak seniman berambut gondrong yang dipukul rata.Remy Silado,Sophan Sophiaan,Broery Marantika,Trio Bimbo,hingga penyair WS.Rendra,Umar Kayam dan Taufik Ismail pernah kena getahnya.gerakan cekal rambut gondrong kian menghebat ketika pada 15 januari 1972,melalui surat edaran presiden kepada ABRI,yang diwakili oleh jenderal Soemitro yang kala itu sebagai Panglima komando operasi pemulihan keamanan dan ketertiban masyarakat,semakin refresif menindak pelaku rambut gondrong.ABRI dan Polisi dikerahkan merazia setiap lelaki berambut gondrong yang berkeliaran dan mencukurnya di tempat sampai plontos.Kampus dan sekolah pun tak luput dari razia.para rektor mengeluarkan ultimatum agar Mahasiswa yang tetap memilih berambut gondrong agar mengundurkan diri atau dikeluarkan.

Di yogyakarta,siswa berambut gondrong dilarang ikut ujian.di Wonosobo,bahkan penonton bioskop yang telah membeli karcis dilarang menonton jika berambut gondrong.di Medan,Gubernur Sumatera utara kala itu membentuk Badan Pemberantasan Rambut gondrong yang bertugas menggunduli anak muda yang berambut gondrong.para seniman dan mahasiswa tentu saja tak tinggal diam.mereka menolak "perlakuan" semacam itu.seperti diberitakan Majalah TEMPO pada tahun itu,razia anti gondrong dibalas mahasiswa dengan merazia polisi gendut.Menurut Hariman Siregar,Aktivis mahasiswa UI,balasan razia itu untuk menyindir Jenderal Soemitro,yang bertubuh gendut.penolakan dari Mahasiswa Bandung tercatat yang palingkeras.(Majalah TEMPO Edisi 13 Januari 2014.

 Pada hajatan Makassar International Writers Festival 2015 di Benteng Rotterdam kemarin,saya--setelah sekian lama menunggu--akhirnya bertemu Penulis idola saya,Seno Gumira ajidarma.sepenilaian saya,Seno,atawa yang sering dipanggil SGA,adalah sosok penulis yang (selalu) gemas pada sikap Pemerintah Orde baru.hal itu dituangkan dalam banyak tulisannya.Seno,kerap "mengolok-olok" pemerintah kala itu lewat cerpen.salah satu cerpennya berjudul "Misteri Siluman Berambut Gondrong" secara sarkas menguliti kebuasan pemerintah yang doyan "mengamankan"(kenyataannya menghilangkan) orang-orang yang dianggap kerikil(pengganggu) dalam sepatu penguasa.dalam cerpen tersebut,seno mengungkap kebiadaban Penguasa Tiran yang menggunakan tangan besi Militer untuk meneror dan menculik warga yang dicap preman.orang-orang suruhan tersebut selalu menggunakan rambut palsu dalam melakukan aksinya.dalam buku kumpulan cerpen Seno yang diterbitkan Bentang Pustaka berjudul "Trilogi Insiden"(rangkuman dari trilogy buku cerpen Seno yakni Saksi mata,Jazz,parfum dan Insiden,serta Ketika jurnalisme dibungkam,sastra harus bicara) banyak dijumpai alasan dan latar belakang perihal lahirnya cerpen-cerpen protes Seno.

     Hal yang berkesan dari perjumpaan singkat saya dengan Seno adalah sikapnya.selama ini lewat foto dan tulisan-tulisannya,ditambah kabar dari sejumlah orang saya menduga Seno adalah seorang yang dingin terhadap orang-orang disekitarnya,termasuk kepada para penggemarnya.kecurigaan saya bersandar atas dua hal:Seno kabarnya tidak mau disebut Sastrawan atau Seniman,ia lebih suka disebut dan menyebut dirinya Wartawan.kenyataan kedua,Seno Pernah Menolak menjadi pemenang Penghargaan Sastra pada gelaran Achmad Bakrie Awards yang pernah diselenggarakan oleh group Bakrie Beberapa tahun lalu.kenyataan yang lain,saya memang belum pernah bertemu dengan Seno sebelumnya,kendati buku-buku cerpennya sudah menjadi penghuni rak buku saya sejak SMP.

Yang menarik dari Style dan tampilan seorang Seno adalah,diusia yang telah menjangkau separuh baya,ia,maksud saya,gaya rambutnya tetap dibiarkan begitu-begitu saja semenjak dulu:Gondrong dan--kini bahkan telah memutih--dibiarkan menjuntai kesana-kemari tanpa ikatan.terlihat pula anting di telinga kirinya.saya lantas berfikir lalu mengambil kesimpulan bahwa apa yang dilakukan Seno bisa jadi semacam bentuk perlawanan terhadap penguasa orde baru yang pernah melarang Seniman memelihara rambut gondrong.dan dendam itu belum sepenuhnya hilang bahkan sampai hari ini? Saya juga pernah gondrong.saya bahkan memelihara rambut gondrong saya sampai 5 tahun.karena kesamaan style inilah barangkali sehingga saya seperti memiliki hubungan emosional yang lain dengan Seno.saya suka Seniman gondrong.

Hal ini yang kemudian saya tangkap dalam pikiran saya lantas mengait-ngaitkan Seorang Seno dengan kisah diskriminasi terhadap rambut gondrong diawal tulisan ini.

Selain itu,tentu saja sikap hangat seorang Seno terhadap penggemar dan pembaca cerpen-cerpennya,patut diapresiasi.ia meladeni dengan sabar setiap penggemar yang meminta tanda tangan dan foto bersama.sangat jauh dari kesan awal saya dan begitu berkebalikan dengan apa yang ada di kepala saya sebelumnya.

Ada hal menarik ketika saya bertemu Seno di MIWF 2015 Kemarin.ketika mengantre diantara penggemar yang hendak meminta tanda tangan,saya sebelumnya sudah menyiapkan tiga buah buku kumpulan cerpen Seno(Trilogi insiden,Sebuah pertanyaan untuk cinta,dan negeri senja) yang akan saya sodorkan untuk ditanda tangani.selain itu,—dan ini yang tidak dimiliki para penggemar Seno yang lain—saya juga menyiapkan satu majalah lama(MODE) terbitan tahun 1991.majalah tesebut sudah tak bersampul,beberapa halamannya hilang,kertasnya lusuh dan telah menguning dimakan tahun.tetapi yang istimewa bagi saya,didalam lembaran-lembaran tua itu,terdapat satu cerpen lama seno berjudul “Seorang wanita di sebuah loteng”(cerpen ini kemudian dimuat dalam buku antologi cerpen Seno “Dilarang Menyanyi di kamar Mandi”).gegara majalah ini,saya kemudian mengenal cerpen seno.majalah itu sendiri ceritanya adalah milik kakak saya.didalam penerawangan saya,barangkali,kakak saya hanya iseng ketika membeli majalah itu 24 tahun yang lalu di sebuah kios majalah di depan SMTI Ujung Pandang ,di sudut jalan Tentara Pelajar(sekolah itu sudah tidak ada sekarang karena kena proyek penggusuran.dilokasinya kini berdiri Hotel Makassar Palace).barangkali sambil menunggu DAMRI,kakak saya membolak-balik majalah itu.kakak saya tidak tahu,bahwa majalah itu akan sangat berharga bagi saya dikemudian hari. 
 

Ketika tiba giliran saya,manakala menyodorkan majalah tersebut untuk ditanda tangani saya melihat seno tertegun sejenak memandangi kenyataan di hadapannya.lalu ia berujar,”Wah,dapat dari mana majalah ini,ini tulisan saya sudah lama sekali.saya sendiri sudah tidak punya tulisan ini.saya terharu..”.

menyaksikan kejadian itu raut wajah seno berubah sendu,saya menangkap perubahan diwajah seno tersebut.dalam kepala saya,Seno barangkali sedang membayangkan dirinya jauh dimasa lalu ketika pertama kali menulis dan mengirim cerpen-cerpennya ke Penerbit.yang tidak diketahui Seno,kecamuk perasaan dalam dada saya jauh melampaui segala kata-kata.persendian saya gemetar,saya gugup,mata saya berkaca-kaca terharu.saya memang begitu,setiap kali bertemu orang yang saya idolakan saya selalu dilanda perasaan gugup.saya tidak tahu kenapa.
Semangat saya untuk menulis kembali menyala,usai bertemu Seno.berpendar dan sekejap berkobar-kobar lagi.seperti api.seperti cahaya mentari.barangkali juga,seperti senja yang cahayanya keemasan yang selalu menyapuhkan batang-batang warnanya ke segenap jalanan,yang menembus kedalam jendela gedung-gedung bertingkat,ke atas ranjang yang sepreinya belum dirapihkan karena baru saja terjadi pergumulan antara seorang wanita muda dan atasannya yang ternyata suami orang,cahaya yang hangat menyapu pasir di pantai yang tenang,juga ombak dilautan pada sebuah kota yang mirip gambar  selembar kartu pos (yang terakhir ini saya coba meniru-niru kalimat SGA dalam cerpen-cerpennya,hehe) maka,seperti inilah akhirnya,kisah ini dan perjumpaan saya dengan Seno gumira ajidarma.meski singkat,namun tentu saja hangat dan berkesan.


Mengenang MIWF 2015,3-6 Juni @Fort Rotterdam,Makassar






  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.

Nyali!

Ibu