Himne pada sepotong subuh(rindu untuk seorang gadis)
oleh : Arief Muhammad Muhammad
Subuh ini,ketika mata masih enggan tuk terpejam.aku iseng-iseng membuka-buka buku kumpulan puisi.tiba-tiba mataku tertuju pada satu puisi karya pablo neruda yang dulu pernah kukirimkan untuk seseorang(gadis).
ketika aku kembali membaca puisi itu,aku merasa jiwaku berada begitu dekat dengan orang yang kukirimi puisi tersebut,gadis itu,seperti ada sebuah kekuatan maha gaib yang menarik jiwaku untuk memikirkannya.
rindu.begitulah aku menyebut suasana hati yang selalu ingin kembali kemasa lalu.masa yang pantas untuk diulangi,meski mustahil.kutahu aku tak bisa mengembalikan waktu.namun,lewat puisi aku bisa mengekalkannya(waktu).
dan seperti sebuah kesakitan yang berulang-ulang,setiap kali aku mengenang masa lalu.wajah itu,wajah yang terlampau akrab dengan wajah jiwaku,selalu hadir.kian menjelma.melesat jauh kedalam rongga dada.lalu sekonyong-konyong membuat butir-butir kesedihan jatuh berdebum di pipi tirusku.
kemanakah ia kini,wanita itu.wanita yang pernah menjadi sosok yang teramat penting dalam kehidupanku bertahun-tahun silam.aku tak tahu.aku bahkan tak sempat melihatnya pergi untuk terakhir kali.wanita itu telah menjadi sesobek puisi cinta dalam diary yang hilang.dan mengenangnya hanya akan menciptakan irama-irama kesedihan yang mengiris hati.luka.memerah dan kian berdarah.
subuh ini,ketika kesedihan makin menjadi-jadi.kubiarkan saja perih pedih hatiku hancur,agar lebur dan mencair.lalu hilang hanyut kepantai yang jauh,tempat berakhirnya segenap kesedihan-kesedihan.
dan sungguh,betapa aku takluk oleh suasana yang kuciptakan sendiri.dan alangkah mautnya puisi-puisi cinta telah berhasil merobek hatiku.sungguh,sosok pablo neruda,lewat kumpulan puisi-puisi cintanya yang berdarah,subuh ini.didalam kamarku yang pengap oleh aroma rindu yang meruap.dibawah langit-lagit kamarku yang pucat,aku biarkan diriku,kuyup oleh kesedihan yang berjelaga.aku menangis sejadi-jadinya.aku rindu padanya,pada wanita yang dulu pernah kukirimi puisi-puisi cinta pablo neruda.tak tahu,entah dimana ia kini,bagaimana nasibnya,masih hidup ataukah telah bersemayam dalam tanah berlumpur.padanya,segenap cinta,rindu,asa,maut,kasih sayang,kenangan,nafas,udara,puisi,air mata,luka,jiwa,hati,jalanan dan persimpangan yang pernah kulalui bersamanya,taman,senja,cahaya mentari pagi,embun,sofa tempat ia pernah menaruh bibirnya di bibirku,juga sebait doa yang kurangkai dari hati yang paling luka,kukemasi,kubungkus dalam sekotak himne yang tak putus-putusnya kulantunkan lirih untuknya.
kepada gadis yang kerap menemaniku berlarian di taman-taman kota,berpuluh tahun silam.
Rani.
Makassar,21 maret 2011.
Subuh ini,ketika mata masih enggan tuk terpejam.aku iseng-iseng membuka-buka buku kumpulan puisi.tiba-tiba mataku tertuju pada satu puisi karya pablo neruda yang dulu pernah kukirimkan untuk seseorang(gadis).
ketika aku kembali membaca puisi itu,aku merasa jiwaku berada begitu dekat dengan orang yang kukirimi puisi tersebut,gadis itu,seperti ada sebuah kekuatan maha gaib yang menarik jiwaku untuk memikirkannya.
rindu.begitulah aku menyebut suasana hati yang selalu ingin kembali kemasa lalu.masa yang pantas untuk diulangi,meski mustahil.kutahu aku tak bisa mengembalikan waktu.namun,lewat puisi aku bisa mengekalkannya(waktu).
dan seperti sebuah kesakitan yang berulang-ulang,setiap kali aku mengenang masa lalu.wajah itu,wajah yang terlampau akrab dengan wajah jiwaku,selalu hadir.kian menjelma.melesat jauh kedalam rongga dada.lalu sekonyong-konyong membuat butir-butir kesedihan jatuh berdebum di pipi tirusku.
kemanakah ia kini,wanita itu.wanita yang pernah menjadi sosok yang teramat penting dalam kehidupanku bertahun-tahun silam.aku tak tahu.aku bahkan tak sempat melihatnya pergi untuk terakhir kali.wanita itu telah menjadi sesobek puisi cinta dalam diary yang hilang.dan mengenangnya hanya akan menciptakan irama-irama kesedihan yang mengiris hati.luka.memerah dan kian berdarah.
subuh ini,ketika kesedihan makin menjadi-jadi.kubiarkan saja perih pedih hatiku hancur,agar lebur dan mencair.lalu hilang hanyut kepantai yang jauh,tempat berakhirnya segenap kesedihan-kesedihan.
dan sungguh,betapa aku takluk oleh suasana yang kuciptakan sendiri.dan alangkah mautnya puisi-puisi cinta telah berhasil merobek hatiku.sungguh,sosok pablo neruda,lewat kumpulan puisi-puisi cintanya yang berdarah,subuh ini.didalam kamarku yang pengap oleh aroma rindu yang meruap.dibawah langit-lagit kamarku yang pucat,aku biarkan diriku,kuyup oleh kesedihan yang berjelaga.aku menangis sejadi-jadinya.aku rindu padanya,pada wanita yang dulu pernah kukirimi puisi-puisi cinta pablo neruda.tak tahu,entah dimana ia kini,bagaimana nasibnya,masih hidup ataukah telah bersemayam dalam tanah berlumpur.padanya,segenap cinta,rindu,asa,maut,kasih sayang,kenangan,nafas,udara,puisi,air mata,luka,jiwa,hati,jalanan dan persimpangan yang pernah kulalui bersamanya,taman,senja,cahaya mentari pagi,embun,sofa tempat ia pernah menaruh bibirnya di bibirku,juga sebait doa yang kurangkai dari hati yang paling luka,kukemasi,kubungkus dalam sekotak himne yang tak putus-putusnya kulantunkan lirih untuknya.
kepada gadis yang kerap menemaniku berlarian di taman-taman kota,berpuluh tahun silam.
Rani.
Makassar,21 maret 2011.
Komentar
Posting Komentar