TRADISI PEMBERANTASAN TERORISME MENJELANG BULAN RAMADHAN

saya sedikit kaget,ketika mendengar kabar penangkapan ustad Abu bakar Baasyir oleh mabes polri sesaat setelah beliau pulang memberi ceramah di Bandung.alasan penangkapan beliau sama sekali tak bisa diterima oleh otak saya.beliau dituduh sebagai orang yang mendanai kegiatan teroris di tanah air.sekalipun tak punya bukti mendasar,ustad Abu bakar Baasyir tetap ditangkap,tanpa ada perlawanan yang berarti.Saya melihat ada rencana dari pihak-pihak tertentu yang ingin mengganggu stabilitas keamanan di negeri ini.sebagaimana tradisi tahun-tahun sebelumnya,selalu saja ada siaran televisi yang ramai menayangkan aksi dari tim densus 88 menumpas orang-orang yang dicap teroris disaat siaran televisi di bulan ramadhan harusnya diisi dengan acara yang lebih berbobot semisal tausiyah ramadhan atau ilmu-ilmu agama seperti pengajian dan kultum.bukan hanya resah dengan keadaan seperti ini,tetapi saya juga bertanya-tanya dalam hati,”mengapa pemberantasan terorisme ditanah air,selalu saja aktif dilakukan ketika memasuki bulan Ramadhan,bulan dimana harusnya tak ada perang dan pertumpahan darah?"bukankah karena saking menghormati keagungan bulan Ramadhan,sampai-sampai Nabi Muhammad. Saw sendiri menunda perang.


Apakah pemerintah memang tak lagi menghormati keagungan bulan suci Ramadhan sehingga tak lagi peduli dengan sikap yang pernah dicontohkan oleh Nabi kita dahulu.ataukah memang pemerintah lagi-lagi sedang melakukan stategi klasiknya yakni “pengalihan issu”.seperti kita ketahui,kasus-kasus seperti dana 6’7 triliyun milik rakyat yang dicuri di Bank Century sampai saat ini nasibnya masih gelap tak tahu kapan endingnya.terlebih bila harus menuntut pemerintah untuk bersikap tegas mengusut dan memenjarakan pelakunya.ah,sepertinya kita terlalu jauh bermimpi.jauh panggang dari api,begitu kira-kira pepatah yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan kasus-kasus korupsi dinegeri kita yang penangannannya tak jelas nasibnya hingga hari ini.


Alangkah baiknya jika semenjak hari ini hingga diwaktu-waktu mendatang.kasus –kasus yang hanya akan mengurangi kekhusyukan masyarakat dalam menjalankan ibadah(khususnya ibadah dibulan ramadhan) tak usah terlalu diekspose oleh media(media cetak dan media elektronik apapun itu).bukankah pemberantasan terorisme harus konsisten dan tak usah menunggu datangnya bulan suci Ramadahan jika pada akhirnya siaran-siaran yang ditayangkan media elektronik atau yang dimuat dimedia cetak pada akhirnya hanya akan menambah rasa takut masyarakat.sekali lagi,diperlukan sikap toleransi dan kesadaran antar sesama ummat beragama agar hal-hal yang tak kita inginkan dapat dicegah demi stabilitas keamanan Negara kesatuan Republik Indonesia.sedangkan terkait dengan penangkapan Ustad Abu bakar Baasyir,saya berharap aparat tidak hanya “main tangkap” tanpa dilandasi oleh bukti-bukti yang jelas.mari kita menjaga kesucian bulan Ramadhan ini dengan tak saling mengintervensi kemerdekaan orang lain.

wallahu a’lam.



Gowa,14 agustus 2010
                                                                            

                                                                                                                     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.

Nyali!

Ibu