Ironi Kota dan Suara-Suara Sumbang

Pantai Losari.sumber foto: Kompasiana



"Sekali layar terkembang,pantang biduk surut ke pantai" 
 (semboyan pada lambang kota Makassar)



Ketika dunia menuntut begitu banyak perubahan,di Makassar,ibukota provinsi Sulawesi Selatan sebagai kota berpenduduk hampir 2 juta jiwa,yang melabeli tubuhnya dengan kota dunia,pun tak mau ketinggalan dan ikut berubah.Makassar bisa tonji,begitu slogan yang sering mereka dengungkan,seolah tak mau tertinggal dari kota metropolitan lain,makassar menggenjot pembangunan,dana digelontorkan,bangunan-bangunan tinggi diajak berlomba menggapai-gapai langit yang kelam karena polusi industri dan asap kendaraan yang kian menyesaki penjuru kota anging mamiri.demi mengabulkan tuntutan berbagai perubahanan itu,sejumlah Ironi satu demi satu bermunculan mengiring laju pertumbuhan dan kemajuan kota.sering kita saksikan di hampir sudut kota,di depan pusat-pusat perbelanjaan ironi yang terpampang nyata menusuk-nusuk mata.sekelompok anak-anak berbaju kusam,dengan mata sayu dan kaki yang tak beralas menanti rupiah dari konsumen yang singgah berbelanja.anak-anak itu diperalat menjadi tukang parkir,sementara tak jauh dari tempat itu,seorang bapak berseragam juru parkir tertidur di sebuah bangku.anak-anak yang semestinya menikmati masa-masa indah mereka,harus kehilangan masa kecil yang menyenangkan.siapa yang mesti bertanggung jawab? 

Remaja Kota Makassar,tak bernasib lebih baik.arus peredaran Narkotika dan obat-obatan terlarang mencengkeram generasi penerus bangsa.satu per satu mereka tewas overdosis.yang bertahan hidup akhirnya digelandang ke Kantor Polisi karena menjadi pengedar narkotika.kebutuhan akan gaya hidup yang semakin pesat,membuat remaja kita menjadi kaum penyembah keduniawian,Hedonisme,acuh-tak acuh pada masa depan.hasrat untuk memenuhi nafsu mereka,akhirnya menjerumuskan pikiran-pikiran polos yang sedang berjuang menemukan jati diri harus terlibat berbagai tindak kejahatan.karena butuh uang sebagai modal bergaul,mereka terpaksa mencuri,menjambret,menjadi Begal yang meresahkan serta mengancam keselamatan warga.haruskah pula remaja-remaja itu di salahkan? sedangkan mereka yang butuh pekerjaan,harus gigit jari,karena pemerintah tak acuh membuka lapangan kerja seluas-luasnya.lapangan pekerjaan di Kota ini,hanya bagi mereka yang berpendidikan dan bermartabat tinggi.job fair dan lowongan kerja,setiap saat membutuhkan banyak tenaga.tetapi bukan diperuntukkan bagi mereka yang putus sekolah dan tamatan sekolah rendah.bagaimana mungkin mereka sekolah tinggi-tinggi,ongkos pendidikan di negeri ini masih berada di awang-awang.sulit di jangkau dengan modal cekak.pendidikan gratis bergaung dimana-mana,tetapi remaja-remaja yang putus sekolah dari hari ke hari pun terus menjamur.ini salah siapa? adakah yang keliru dengan sistem pendidikan kita?

inilah ironi sebuah kota yang dibangun tanpa kesadaran kolektif.pemimpin hanya sibuk dengan urusan sendiri.jika bukan menyangkut partainya,atau kelangsungan karier dan keluarganya,maka disana pemimpin kita tiada.alhasil,remaja kita kembali menjadi korban.mereka dipaksa menjadi monster jalanan,demi mencari makan,dan melampiaskan rasa frustrasi.

Pantai-pantai yang ditimbun adalah ironi yang lain di Kota ini.demi membangun wisma negara,penguasa berselingkuh dengan pengusaha.Pantai Losari yang menjadi ikon kota,diuruk berton-ton tanah.dengan bangga,tanpa rasa bersalah.nelayan yang sering mencari ikan dan kerang di sekitar pantai,tak lagi berhak menyandarkan sampan disana.mereka terpaksa menyingkir,karena kawasan pantai telah menjelma tanah-tanah kapling yang telah dibatasi patok-patok kapitalisme.perumahan elite kian berkembang di sekitar pantai Losari hingga ke kawasan mandiri Metro Tanjung Bunga.sambil merintih memegang perut yang kelaparan,nelayan-nelayan menyingkir dari sumber penghidupannya.periuk nasi mereka,di rampas Pemerintah sendiri.

ada lagi hal yang membuat miris.gedung wartawan di jalan A.P Pettarani malah berubah menjadi minimarket.setiap kali saya melintas di situ,saya merasa malu,sedang Bar-Bar dan tempat karaoke bisa dibuat mewah di kawasan Pelabuhan dan Panakkukang,mengapa pemerintah Abai terhadap nasib gedung para pewarta.semasif inikah Minimarket menjajah ruang-ruang milik pemerintah? duh,sungguh sebuah humor yang tak lucu.trotoar tempat pejalan kaki bersalin fungsi menjadi tempat pedagang kaki lima menjajakaan segala macam barang.menciptakan kesemrawutan di mana-mana.tata kota tak lagi teratur.Piala Adipura,seolah hanya kedok belaka demi memuluskan langkah penguasa menuju pemilihan walikota periode selanjutnya.alangkah banyak hal yang perlu di kritisi di kota ini,kota Makassar,kota para Daeng,yang konon katanya berbudi luhur dan menjunjung nilai-nilai siri' na pacce'.siri' apabila ruang publiknya dicuri,Pacce ketika tetangganya tak makan dan terpaksa menjadi Payabo' demi menopang tiang penyangga hidup keluarga yang nyaris roboh.

Jikapun tulisan ini--pada akhirnya--lebih mirip keluhan atas rasa sakit yang telah berada di titik nadir,saya pun tak mau disalahkan.saya hanya menulis.mencurahkan keluh-kesah sebagai warga negara kelas tiga di negara yang katanya makmur sentosa.maka,jika kebutuhan dan hajat hidup rakyat kecil yang telah tertuang dalam Undang-Undang Dasar sebagai suatu hak dasar yang harus disubsidi Pemerintah seperti Hak untuk mendapatkan Hunian,Pekerjaan,Pendidikan dan Layanan kesehatan yang layak pada akhirnya hanya menjadi janji-janji kosong Pemerintah,salahkah saya yang lantas berubah menjadi pesimis?

Akhirnya,maafkan jika saya tak punya solusi apa-apa demi membenahi segala kekacauan selain cuma bisa berkoak-koak bagai gagak kelaparan yang berusaha  membangunkan sang pemimpin mulia yang sedang asyik terlelap di singgasananya.maafkan pula jika suara saya hanyalah suara-suara sumbang.setidaknya,saya tidak diam melihat ketimpangan.jangan pula suaraku lantas engkau bungkam.





: : Makassar,17 April 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.

Nyali!

Ibu