Adegan Kehancuran dan Trauma Pemerintah

Gedung hancur dalam film TRANSFORMERS.Sumber foto: Internet.


“Dan Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”

(Q.S. Ar Rum : 41-42)


Beberapa hari yang lalu,saya tertegun di depan Televisi yang sementara menyiarkan berita penggusuran Kampung Pasar ikan di Penjaringan,Jakarta utara.awan mendung bagai menggantung di langit-langit hati.mencipta kecamuk di dalam dada melihat bangunan dan rumah-rumah warga rata dengan tanah dalam hitungan menit.hampir 5000 jiwa korban penggusuran yang berasal dari seribu lebih kepala keluarga akhirnya menggelandang.sebagian besar memilih direlokasi ke Rumah susun Rawa bebek  Marunda.sebagian lain yang memilih bertahan memilih hidup di atas perahu yang tertambat di sekitar lokasi.kampung pasar ikan adalah daerah pesisir,warganya hidup dari laut,ada yang mencari makan sebagai nelayan,hasil tangkapan lantas dijual di kampung pasar ikan.yang lain memilih profesi sebagai pedagang,juga buruh angkut di kawasan tersebut.

Pemerintah DKI Jakarta akhirnya merelokasi kampung pasar ikan pada 11 april 2016 demi merealisasi pembangunan Kawasan wisata bahari Sunda Kelapa sebagai situs warisan Budaya.akan tetapi warga menolak pindah karena pemerintah enggan memberi kompensasi.toh,pemerintah beranggapan warga kampung pasar ikan adalah penduduk tak resmi yang tak berhak mendapatkan ganti rugi karena membangun di atas tanah milik PD.Pasar jaya pemerintah DKI Jakarta.

Budaya Relokasi atau gusur-menggusur yang kembali marak di Ibu kota,terutama setelah bergantinya posisi gubernur DKI Jakarta dari Joko Widodo ke Basuki Tjahaja Purnama,seolah membangkitkan kembali ingatan kolektif kita akan budaya purba yang represif di zaman orde baru.kala itu,di bawah kepemimpinan Soeharto,hampir semua manusia dipaksa tunduk pada kekuasaan yang Tiran.hampir tak ada rakyat yang sanggup melawan.sebagian yang kritis dan nakal bersuara,bisa saja berakhir di kali atau selokan sebagai mayat yang mengambang.

Dewasa ini,kita seperti kembali ke zaman kolonialisme.kemerdekaan individu seperti telah hilang dari kehidupan kaum bawah.hak rakyat kecil untuk mendapat perlindungan dan tempat bermukim rupanya hanyalah mitos dan dongeng yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar.kenyataannya,penguasalah yang menentukan kebebasan rakyat kecil.rakyat hanya boleh tunduk,dan sesekali cukup manggut-manggut,meskipun tak setuju.

melihat bangunan-bangunan yang roboh karena digaruk Buldozer dan alat-alat berat milik penguasa,saya tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah sejadi-jadinya.betapa kehancuran dipertontonkan dan diberitakan sedemikian vulgar.sebagian orang yang menyaksikan kesewenangan itu malah tertawa-tawa di depan televisi,sementara di layar kaca ibu-ibu berdaster menangis pedih sambil memeluk anaknya.tak percaya rumah yang telah ditinggali puluhan tahun,rata dengan tanah,lenyap dalam sekejap.kasihan betul.

kehancuran seperti itu,sering saya saksikan bahkan ketika saya masih kecil.di film-film laga luar negeri hingga film kartun dan animasi,kehancuran dan budaya kekerasan masih menjadi jualan demi meraup pundi-pundi.salah satu yang sering mempertontonkan adegan kehancuran adalah film kartun DRAGON BALL,ingat adegan ketika Son Goku bertarung dengan Vegeta yang datang dari planet Namex.bumi seolah kiamat,gunung-gunung hancur,bangunan dan rumah-rumah penduduk musnah hanya dengan sekali pukulan Manusia Super Saiya ini.setiap kali Son Goku bertarung dengan alasan melindungi bumi,yang ada malah sebaliknya,Bumi menjadi porak-poranda bagai diguncang gempa.tak hanya dengan Vegeta,juga dengan musuh-musuh seperti Raja iblis Picolo,si gendut Bow,tentara Pita merah,hingga monster bernama Cell.

ingat pula film kartun NARUTO.adegan ketika Naruto bertarung melawan Madara,salah satu musuh terkuatnya.juga jangan lupa film animasi ONE Piece,kekerasan dan kehancuran betapa dahsyat dipertontonkan manakala Monkey D Luffy sang Bajak Laut bertopi jerami bertempur melawan Gold D Rogers.adegan kehancuran juga menjadi jualan film yang komik dan animenya laris di pasaran.sama seperti Dragon Ball dan Naruto,One piece juga film kartun impor dari Jepang.hingga hari ini,tak bisa dipungkiri Negeri matahari terbit itu masih menjadi kiblat kita dalam mengimpor berbagai film kartun dan Animasi.

di tingkatan film-film Hollywood,kehancuran bahkan jauh lebih mengerikan.film-film superhero besutan Amerika seperti THE AVENGERS,IRON MAN,X-MEN,HULK,SPIDERMAN,TRANSFORMERS hingga yang terbaru BATMAN VS SUPERMAN sudah lebih dari cukup menjadi bukti untuk menggambarkan betapa Kehancuran bukan lagi sesuatu yang mengerikan untuk dipertontonkan.

Budayawan Ahyar Anwar,dalam tulisannya berjudul "Merayakan Kehancuran" di Koran Tempo Makassar pada 1 juli 2013 menyorot fenomena ini.Ahyar mengatakan,apabila kita memerhatikan film-film superhero tersebut secara cermat,maka akan kita temui beberapa hal yang justru berbahaya bagi resapan ideologis anak-anak.salah satunya adalah dengan mudah kita menemukan Maskulinisme yang berlebihan,seolah segala persoalan hanya bisa diselesaikan dengan cara yang Maskulin,kelahi dan adu otot.efek negatif yang lain adalah film-film tersebut secara gamblang meracuni pemikiran kita yang bagai diajak untuk merayakan kehancuran lewat adegan-adegan yang mamerkan kengerian sebagai sebuah hal yang wajar,normal,dan bukanlah sesuatu yang luar biasa.penonton akan menemukan kekaguman lewat adegan kehancuran dan kekerasan tatkala gedung pencakar langit ambruk,mobil-mobil remuk,serta orang-orang tak bersalah yang terluka dan berdarah-darah.penonton,termasuk anak-anak generasi penerus kita,bagai dipaksa merasakan sensasi dari indahnya sebuah kehancuran.

akhirnya,setelah menandaskan sisa kopi hitam tadi pagi yang masih mengendap di dasar gelas,saya pun berpikir dan menduga-duga bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah kita hari ini,yang berdalih membangun kota namun justru menghancurkan apa yang telah ada,jangan-jangan adalah Representasi dari apa yang telah menjadi tontonan mereka di masa lalu.semacam luka lama yang terus bernanah dan menjadi trauma di dalam batok kepala.sesuatu yang hanya akan menemukan pelampiasan dan kenikmatannya dengan cara menyakiti dan menebar kehancuran pada orang lain.






:: Glosarium,18 April 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.

Nyali!

Ibu