Catatan pendek di setahun usia Madinah

Madinah,hari ini genap setahun usiamu.

Alhamdulillah,ketika kamu mendapat begitu banyak do'a dan ucapan kebaikan dari orang-orang yang mencintaimu,ayah hanya ingin merenung dan memberi ucapan selamat pada diri sendiri: selamat memperingati setahun menjadi ayah.untuk ibumu,ayah juga ingin memberi ucapan selamat karena telah menjadi ibu juara untukmu.

Ibumu adalah perempuan hebat,nak! dialah perempuan yang paling mengerti apa yang kamu butuhkan sejak kamu terbangun di awal hari sampai kau terlelap kembali.mulai dari mengganti popok,mengisi botol susu,sampai membikin aneka makanan bernutrisi untukmu.dari bubur sampai jus sayur,dari ikan yang disuwir-suwir hingga ayam yang dikukus supaya lunak dan bisa kau cerna dengan mudah.semua dilakukan ibumu,dengan sangat cekatan,tanpa ada kesalahan,tanpa ada cacat-cela sedikitpun.kau harus tahu,nak,dalam hal mengurusmu,ibumu adalah ibu yang perfeksionis,ia tak mau kamu menderita hanya karena sedikit kesalahan.ibumu adalah antitesa dari lelaki berkumis yang sering ia panggil ayah,padahal suaminya.iya,lelaki itu adalah saya,nak.ayahmu.


Madinah,ayah menulis catatan ini untuk dibaca oleh teman-teman ayah yang belum tahu bagaimana rasanya menjalani peran sebagai seorang ayah.usiamu baru setahun saat ayah menulis ini.kau belum faham alfabeth dan angka-angka.baru bisa menyebut beberapa kata.itupun belum jelas artinya.nanti jika kau sudah dewasa,boleh kau baca ini sebagai tanda kau pernah menjalani masa-masa awal kehidupan dunia yang menyenangkan.setidaknya bagi kami,ayah dan ibu yang merawatmu.


Menjadi seorang ayah ternyata bukan perkara gampang.meskipun tetap akan terasa indah apabila dijalani dengan hati sepenuh gembira.menjadi seorang ayah adalah membiasakan diri mengerjakan hal-hal yang tak biasa saya lakukan sebelumnya.hal-hal remeh namun terasa sangat berat karena tak pernah ayahmu kerjakan sewaktu masih berstatus single.bayangkan,tangan yang biasanya sangat lincah dalam mengutak-atik vespa,memasang patok-patok tenda,atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal saat mendaki gunung,seketika tak berkutik di hadapan anak perempuannya yang menangis karena berak dan popoknya minta diganti.tetapi semua harus ayah kerjakan demi kenyamananmu,nak.agar setelah itu kau bisa terlelap kembali manakala hanya ada ayah di rumah karena ibumu sedang sibuk di kantornya.

Sebagai pasangan muda yang sebentar lagi baru akan memasuki usia dua tahun pernikahan,kami berusaha sekuat tenaga belajar menjadi orang tua yang bersikap sebagaimana mestinya orang tua kebanyakan dalam merawat buah hatinya: memberi yang terbaik meski kami sendiri hanya hidup sederhana.ayah dan ibumu bukanlah pasangan yang lahir dari kalangan berada,yang bisa memanjakanmu dengan bermacam barang mewah.tetapi kami dengan tulus merawatmu,memberikan apapun yang bisa kami penuhi demi menunjang kesempurnaan masa pertumbuhanmu.
Hari-hari yang kami lalui sejak engkau lahir ke dunia,adalah masa-masa paling membahagiakan.tak pernah kami sebahagia ini,bahkan saat kami saling mengenal dan memutuskan melangkah ke jenjang yang lebih serius: menikah dan membangun rumah tangga kecil sederhana.


Dan hari ini,tahu-tahu sudah setahun usiamu,nak.masih sangat jelas dalam ingatan ayah saat mengantar ibumu ke Rumah Bersalin Siti Khadijah.ibumu yang memutuskan bersalin di tempat itu.selain karena dekat dari rumah kakek-nenekmu di Ablam,ibumu tahu disitu dokter perempuan yang akan membantu persalinan ibumu juga terkenal ramah.juga tentu saja,karena ayahmu belum rela jika dokter yang akan menangani ibumu,laki-laki.


Rasa haru yang menyelimuti kalbu,mengharu-biru dada ayahmu saat kau muncul dari rahim ibumu.ayah menyaksikan langsung proses perjalananmu menuju dunia,nak.beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang,kau lahir diiringi jerit kesakitan ibumu dan derai air mata lelaki yang telah menunggu Sembilan bulan lebih kedatanganmu.ayah seperti masih mendengar suara adzan ayah di telinga kananmu,Madinah.begitu syahdu dan sedikit bergetar karena ayah dibekap haru.ayah rasa itulah adzan ayah yang paling khusyu’ dibanding adzan ayah ketika masih menjadi muadzin di Masjid dekat rumah kita.dan saat Ayah mengabarkan berita kelahiranmu kepada keluarga dan teman-teman ayah dan ibumu,mengalir banyak sekali ucapan selamat melalui telepon.SMS ucapan selamat atas kelahiranmu,bahkan masih ayah simpan hari ini.sampai kapanpun,ayah tak berniat menghapusnya dari inbox ayah.

demikianlah catatan ini ayah buat sekadar tanda kesyukuran ayah pada Tuhan karena telah dikaruniai putri secantik dan secerdas dirimu,nak…Alhamdulillah,Alhamdulillah..


“Selamat ulang tahun pertama,Madinah Rania Al-fatihah.segala kebaikan semoga dilimpahkan Allah untukmu.tetaplah menjadi putri kebanggaan Ayah bunda..”


“Rabbi hablii minash shaalihiin”
“Ya Tuhan kami,anugerahkanlah kepada kami keturunan yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sholeh” (Q.S Ash Shaffat : 100)



{Glosarium,31 Juli 2017}


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.

Nyali!

Ibu