View master

Mainan View master.sumber foto: Internet


Nama mainan itu View master.bentuknya mirip kamera yang dilengkapi dengan piringan film.lewat kedua lensanya kita bisa melihat pemandangan aneka ragam tempat-tempat suci di negeri para Nabi,hanya dengan menarik tuas mungil yang berada sisi kanan.mainan itu adalah buah tangan dari ibunda tercinta sekembali beliau berhaji tahun 1997.kalau tidak salah ingat,ONH kala itu masih 7 jutaan.tetapi untuk ukuran sebelum krisis,sungguh itu bukan jumlah yang kecil.ibu menabung bertahun-tahun,dan karena biaya haji ibu belum juga mencukupi,disaat-saat akhir,beliau akhirnya ikhlas merelakan sepetak sawah yang pernah dibeli almarhum suaminya berpindah tangan demi keberangkatan beliau ke tanah suci.menurut ibu,sewaktu Bapak masih hidup,bapak memang pernah berwasiat agar salah satu sawah itu dijual saja,tidak mengapa asalkan hasil penjualannya bisa dipakai ibu untuk berhaji.sewaktu masih hidup,bapak memang beberapa kali membeli sawah.

terhitung sejak keberangkatan ibu,saya mulai diserang perasaan berdebar-debar.saya bahagia melihat ibu bisa mewujudkan cita-citanya berhaji,tetapi di sisi lain saya tiba-tiba takut kehilangan ibu.hari ketika ibu berangkat dalam pakaian ihram serba putih bersama rombongannya sungguh mengharu biru hati saya.ibu tergabung dalam kloter 18 embarkasi Ujung Pandang.dalam hati saya berdoa semoga ini bukan pertemuan terakhir saya dengan ibu.menghitung hari,membilang pekan,tanpa terasa jamaah haji,sebentar lagi kembali ke tanah air.

menunggu kabar dari ibu adalah hari-hari mendebarkan yang lain,diantara banyaknya kabar jamaah haji yang wafat di tanah suci.kata guru mengaji saya,jamaah haji yang wafat di tanah suci,insya Allah akan di ganjar surga.sebab mereka terhitung syahid,meninggal dalam keadaan beribadah kepada Tuhannya.tetapi saya berharap ibu baik-baik saja.Alhamdulillah,hingga ibu kembali ke tanah air,beliau dalam keadaan sehat walafiat.

ketika menjemput ibu di Bandara Hasanuddin kala itu,bendungan air mata saya pecah.saya tak mampu lagi menahan haru.saya memeluk ibu erat sekali.bocah kelas 5 dalam diri saya menangis sejadi-jadinya karena gembira bertemu kembali dengan emaknya.menjemput ibu di bandara pada musim haji tahun 1997 itu adalah salah satu peristiwa paling berkesan dalam hidup saya.hingga hari ini saya seperti masih bisa mencium aroma baju ibu ketika beliau pulang berhaji kala itu,harum seperti Hajar Aswad,batu dari surga yang dibawa malaikat jibril untuk dilekatkan oleh Nabi Ibrahim di dinding ka'bah ketika beliau membangun Baitullah bersama puteranya,Nabi Ismail.

kebahagiaan saya semakin bertambah ketika ibu menghadiahi saya mainan View master itu.sebelum ibu berhaji,saya hanya bisa bermimpi punya "mainan mahal" seperti ini setiap kali ada anak tetangga yang orang tuanya baru pulang berhaji.anak-anak yang punya mainan view master biasanya akan memamerkan ke temannya satu kampung,hingga akan menjadi bahan pembicaraan satu sekolah keesokan harinya.mereka yang punya mainan view master,dijamin akan punya banyak teman asalkan mau berbaik hati meminjamkan mainan view masternya.kala itu,semua anak-anak kampung bermimpi ingin punya mainan ini.saya salah satu anak yang beruntung.

saya kemudian tumbuh dewasa,dan bertahun-tahun mainan historikal itu terlupakan.saya menemukannya kembali beberapa tahun lalu.tergeletak begitu saja di kolong lemari di pojokan kamar.meski hampir seluruh keping film-nya sudah kabur termakan usia dan jamur,tetapi mainannya masih sangat baru,plus masih lengkap dengan Kotak kardusnya.mainan view master itu sempat kembali terlupakan,sampai saya mendengar berita duka itu.peristiwa memilukan yang menimpa Jamaah Haji,termasuk jamaah haji asal Indonesia.11 september 2015,badai hebat disertai debu pasir menerjang jazirah Arab dan mengakibatkan salah satu alat berat yang dipakai untuk memugar kawasan Masjidil haram tumbang dan menimpa ratusan tamu Allah yang baru saja melaksanakan sholat maghrib.tercatat puluhan korban meninggal,dan ratusan jamaah haji terluka.saat menyaksikan beritanya di televisi,saya dicekam bermacam perasaan.kecamuk ngeri dan gemuruh duka menghantam dada.lalu dengan sangat cepat,kabar ini menyita segenap perhatian dunia dan menciptakan kegemparan bagi keluarga jamaah haji di tanah air.

lalu beragam peristiwa,berkelebatan bagai slide film view master di depan mata saya.seketika saya teringat perkataan guru mengaji saya,berpuluh tahun silam.saya masih teringat kata-kata beliau,para jamaah haji yang wafat di tanah suci,insya Allah akan di ganjar surga.sebab mereka terhitung syahid,meninggal dalam keadaan beribadah kepada Allah SWT,Dzat yang telah menetapkan setiap kejadian diatas dunia ini,mulai dari perkara jodoh,rezeki,sampai ajal dan tempat kematian setiap hamba.saya juga teringat wajah ibu yang begitu bersih dan khusyu',sepulang beliau berhaji.saya ngeri membayangkan andai tragedi ini menimpa jamaah haji tahun 1997,dan ibu saya mungkin adalah salah satu korban.betapa saya akan kehilangan,betapa saya harus mengubur mimpi saya mendapat oleh-oleh view master dari ibu.betapa penantian saya untuk bertemu kembali dengan ibu akan terasa sangat panjang dan tidak mungkin lagi pernah berakhir.

perasaan seperti inilah yang kini mendekam di hati keluarga jamaah haji yang menjadi korban robohnya crane di Masjidil haram.betapa saya sedih,dan turut merasakan luka mereka.membayangkan diluar sana ada anak kecil yang menunggu dengan dada berdebar-debar karena sebulan lebih dibekap rindu pada orang tuanya,berharap mereka kembali,pulang dengan selamat membawa gelar haji mabrur dan oleh-oleh view master dari tanah suci,sebelum ia mendapati kenyataan,mimpi dan harapannya untuk bertemu kembali dengan orang tuanya tidak akan pernah tercapai.bagaimana hati tak pedih,menyaksikan serombongan keluarga jamaah haji berdiri berjam-jam di pintu bandara,tetapi bukan sanak famili mereka lagi yang kembali,kecuali hanya koper-koper jamaah haji yang barangkali berisi oleh-oleh view master untuk buah hati tercinta.koper jamaah haji itu bersama segenap kesedihan yang mengiringinya karena pemiliknya telah lebih dulu berangkat ke surga,beribadah haji di tempat lain,di tempat yang lebih damai.di tempat yang barangkali jauh lebih aman karena tidak akan ada badai pasir yang sewaktu-waktu bisa membuat crane roboh dan menimpa tubuh-tubuh lemah mereka.

"Labbaik Allahumma labbaik!"...."Labbaik la syarika laka labbaik!”

Awan-awan berwarna sendu.mengharu biru bagai hati yang sedang rindu.langit kota mekah bersih sekali hari ini,seperti jiwa-jiwa yang kembali dengan tenang ke hadapan Tuhan-Nya,Ilahi Rabbi..

 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga Adn,yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.mereka kekal di dalamnya.Allah ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepadanya.yang demikian itu,adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Q.S Al-Bayyinah : 7-8)



Gowa,17 September 2015

  *)Sebagai tanda duka atas tragedi robohnya crane di Masjidil Haram,Mekah.kabar terakhir,10 jama'ah Haji asal Indonesia wafat,puluhan lainnya menderita luka-luka dan masih dirawat di beberapa Rumah sakit Arab saudi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima kasih panjang,sehalaman surat pendek.

Nyali!

Ibu