Kota dan Kesedihan
![]() |
| Benteng Ujung Pandang.sumber foto: Pribadi |
Makassar sebagai kota yang bertumbuh dan berkembang pesat waktu demi waktu layaknya sebuah bahtera besar yang mengangkut rerupa kisah dan ragam cerita serta masalah dan persoalannya sendiri.sebagai kota yang menamai diri "Gerbang emas di kawasan timur Indonesia" seringkali masih sulit untuk lepas dari bayang-bayang kebesarannya di masa lampau.seperti yang kita ketahui,pada daerah yang dahulu bernama Ujung Pandang,sejak lama telah dimukimi oleh dua etnis besar di Sulawesi Selatan.dua etnis suku yang bersaudara sebagai penghuni asli tanah celebes,namun terkadang tak akur dalam banyak hal.
Pada Pemilihan Gubernur Sul-Sel
2013,misalnya.dua tokoh yang dianggap datang dari latar belakang etnis
"berbeda" bertarung meraih sebanyak mungkin dukungan dan
simpati rakyat.adalah Syahrul Yasin Limpo sebagai tokoh yang dikenal luas
berasal dari suku Makassar melawan Ilham Arief Sirajuddin yang merupakan orang
bugis dan mewakili suku Bugis.baik Syahrul maupun Ilham,keduanya tidak
mempersoalkan dari mana asal etnis mereka.dua-duanya merangkul semua etnis
dengan harapan terjalin sebuah harmoni yang akan berdampak pada kondisi kota
yang aman.hanya saja massa pendukung merekalah yang kadang menampakkan
sisi-sisi kesukuan dan kerap mengembuskan kabar beraroma SARA.alhasil,beberapa
kali massa pendukung Syahrul dan Ilham bentrok.Pilkada Sul-Sel akhirnya
dimenangkan oleh Syahrul,meskipun harus melewati proses yang panjang karena
terlebih dahulu harus berakhir di meja Mahkamah Konstitusi.ini membuktikan
bahwa etnis Bugis dan Makassar,sekalipun lebih sering terlihat
mesra,namun hubungan keduanya sering pula memanas dan tidak akur.
Jika hendak menelusuri hubungan kedua etnis ini,maka kita harus menilik jauh ke masa lampau.ke masa kepemimpinan I Mallombasi Daeng Mattawang atau yang lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin(1631-1670).pada rentang masa 1655-1660 itu kerajaan Gowa-Makassar mencapai puncak kejayaannya hingga akhirnya terjadi perang Makassar pada tahun 1660-1669 yang berakibat dikalahkannya kerajaan Gowa-Makasssar oleh VOC yang bekerja sama dengan Arung Palakka,raja Bugis yang juga sahabat Sultan Hasanuddin sehingga berujung dengan terjadinya” Perjanjian Bungaya” antara Sultan Hasanuddin dan VOC yang dianggap merugikan pihak Makassar.
Inilah ihwal dicapnya Arung Palakka sebagai “pengkhianat” oleh rakyat Makassar,karena dianggap bekerja sama dengan Belanda.namun bagi suku bugis sendiri Arung Palakka justru dianggap Pahlawan karena apa yang dilakukannya justru dianggap demi kepentingan kerajaan Bugis pada waktu itu.sampai sekarang,dua etnis ini—Bugis dan Makassar—masih sering bertikai meskipun secara “tak kasat mata” di berbagai hal.
Perihal yang bisa dijadikan cermin
kesedihan kota ini adalah kerapnya Mahasiswa dari sejumlah Kampus menggelar
Aksi unjuk rasa yang hampir pasti akan berakhir dengan bentrokan dan
anarkisme.Pembakaran ruang kuliah dan kendaraan bermotor seringkali
terjadi.pelakunya Mahasiswa dari kampus Negeri maupun kampus swasta ,baik
kampus yang ternama maupun yang tidak ternama,semuanya kerap
bertikai.baik antar sesama mahasiswa yang berbeda fakultas hingga
bentrokan yang melibatkan aparat.media massa pun kerap dituding membesar-besarkan
berita,sehingga lengkaplah citra Mahasiswa Makassar sebagai “Kaum intelek yang
Anarkis” di mata orang luar yang tak melihat kondisi secara langsung di
lapangan.
Bentrokan yang sering terjadi di Makassar,sebenarnya bukan hanya didominasi oleh Mahasiswa dan massa politik saja.adapula kelompok lain yang juga kerap berlaku brutal.sebut saja,perang kelompok warga,Suporter Bola dan Geng Motor.yang saya sebut terakhir bahkan sudah sampai pada tahap “sangat meresahkan” masyarakat.akhir-akhir ini mereka tak hanya merampok sejumlah Mini market dan toko,namun juga merampas sepeda motor pengguna jalan dan tak segan melukai.fenomena Geng Motor,menurut sejumlah Pakar hukum ,tidak lepas dari peran aparat kepolisian sebagai pelindung dan pemberi rasa aman bagi masyarakat.di kota ini,hal tersebut yang dituding gagal diemban oleh pihak kepolisian.
Hal
lain yang juga seperti luput dari perhatian pemerintah adalah menjamurnya
kelompok dari golongan bawah: pengemis,pengamen,gelandangan hingga
preman.mereka bertebaran di setiap penjuru kota,seperti menjadi suatu penanda
hubungan yang tidak harmonis antara Penguasa dan rakyatnya.keberadaan mereka
seperti berebut meminta perhatian pemerintah kota yang cuek dan lebih sibuk
mengurusi kepentingan Partai serta pembangunan sejumlah hotel dan mall
demi ambisi melabeli Makassar sebagai Kota dunia.sungguh sebuah hal
yang sangat ironis,mengingat tingkat Kemiskinan di kota ini yang masih
akut(menurut Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah(Bappeda)kota
Makassar,setidaknya masih ada 432.115 Jiwa penduduk kota Makassar yang hidup
dan bermukim di tempat kumuh pada tahun 2013.
Masih terlalu banyak yang bisa dituliskan jika harus menyebut satu demi satu perihal kesedihan di kota ini,tetapi mari cukupkan sampai disini saja, mengingat tulisan ini tentu akan menjadi sangat panjang dan membosankan.namun sebelumnya hendak kuceritakan pula beberapa hal yang cukup menggembirakan,agar tulisan ini terasa lebih adil dan tidak terkesan melulu berisi keluhan.sebentar lagi,di kota Makassar akan dibangun jalur Kereta Api yang akan menghubungkan kota Anging Mammiri' dengan daerah sekitar.pulau Sulawesi akan menyerupai Pulau Jawa dalam hal transportasi.dalam waktu yang tak terlalu lama pula akan hadir Bus way menghiasi jalan-jalan di kota ini.awal Februari tahun ini,pemerintah kota berjanji mulai menguji coba Bus way di beberapa ruas jalan kota Makassar.kehadiran dua moda transportasi ini diharap mampu menjadi transportasi massal yang dapat mengurai tingkat kemacetan yang semakin parah di kota berpenduduk 1.513.281 jiwa ini(sensus 2011).tentu saja,sejumlah niat baik itu hanya boleh terlaksana dengan catatan urusan keamanan dan kesejahteraan rakyat kecil telah lebih dahulu ditunaikan oleh Pemerintah.
Mks,15 Januari 2014
*tulisan untuk mas Bandung Mawardi(jagad Abjad Solo)

Komentar
Posting Komentar